Arsip berita

Key Documents | Press and Public Information | Photogallery

Misi Selesai

Pada tanggal 15 Desember 2006, Misi Monitor Aceh (AMM) berakhir. Semua tugas yang dibebankan pada AMM menurut spesifikasi kesepakatan yang ditandatangani di Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005, telah dituntaskan. Perdamaian di Aceh telah ditetapkan kembali, proses perdamaian tidak dapat dirubah lagi dan telah menjadi kemandirian bagi rakyat Aceh dalam melanggengkan perdamaian tersebut. Telah ada kebebasan yang sempurna dalam bergerak dan berbicara di Aceh, dan pada tanggal 11 Desember 2006 propinsi ini telah melangsungkan pemilihan kepala daerah secara langsung dan demokratis. AMM dibentuk pada tanggal 15 September 2005 dan tujuan utamanya adalah untuk mengawasi pelaksanaan dari nota kesepahaman antara Pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka. Proses perdamaian adalah milik masyarakat Aceh. Sekarang, para pihak yang menandatangani kesepakatan tersebut bersama dengan pemerintahan yang baru dan demokratis, dengan dukungan Uni Eropa, ASEAN dan komunitas internasional yang lebih luas akan melanjutkan pelaksanaan jangka panjang dari nota kesepahaman.

Surat terbuka untuk masyarakat aceh
Keputusan Dewan untuk Indonesia/Aceh
Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk CFSP di Aceh



AMM telah menyelesaikan seluruh tugasnya – pertemuan akhir COSA, 2 Desember

Pertemuan COSA ke-44 yang merupakan pertemuan terakhir diadakan pada hari Sabtu, 2 Desember 2006. Pihak-pihak menyatakan kerjasama yang sangat baik sejak penandatanganan Nota Kesepakatan Helsinki pada bulan Agustus tahun lalu. Mereka menyepakati bahwa mekanisme pertemuan COSA telah menjadi sebuah sarana yang penting menuju proses perdamaian kearah depan dengan cara yang konstruktif dan mufakat. Pihak-pihak yang terlibat dalam perjanjian perdamaian berterima kasih kepada AMM yang telah menyelesaikan tugas-tugas yang merupakan mandat dari AMM di MoU dan menyatakan penghargaannya atas dukungan AMM dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Aceh. Konflik telah berakhir dan proses perdamaian berada pada jalur yang tidak dapat berbalik arah. Dalam pertemuan ini, Malik Mahmud menginformasikan kepada pihak-pihak bahwa GAM sedang berada dalam sebuah posisi transisi ke arah pergerakan politik yang akan selesai pada pertengahan 2007. Pihak-pihak menyambut penegasan kembali Malik Mahmud bahwa GAM menerima Aceh sebagai sebuah bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Baca pernyataan COSA selengkapnya



Pieter Feith mendiskusikan masalah reintegrasi dengan mantan komandan GAM

Pada hari Rabu, 29 November 2006 Ketua AMM Pieter Feith ikut serta dalam sebuah diskusi membahas dukungan komunitas internasional untuk kelanjutan proses reintegrasi dengan para perwakilan dari Komisi Perwakilan Aceh (KPA) dari seluruh penjuru Aceh. Dalam pertemuan ini Pieter Feith membicarakan tentang proses perdamaian di masa depan serta peran dan tanggungjawab para peserta. Dalam hal ini beliau menekankan pentingnya komunikasi langsung antara pihak-pihak. Para peserta diskusi ini juga mendiskusikan proses reintegrasi dan menyatakan bahwa sebagai sebuah proses jangka panjang reintegrasi akan dilanjutkan pasca AMM. Pieter Feith menyatakan bahwa komunitas internasional akan tetap berkomitmen di Aceh dan melanjutkan dukungan terhadap proses perdamaian di masa depan.

Baca lengkap



Duta Besar Jerman mengunjungi AMM

Pada tanggal 28 November 2006 Duta Besar Jerman untuk Indonesia yang baru Bapak Paul Freiherr von Maltzahn, mengadakan kunjungan kehormatan ke markas besar AMM. Duta Besar diterima oleh senior staff AMM yang memberikan penjelasan lengkap tentang misi AMM dan kemajuan yang dicapai dalam proses perdamaian Aceh. Diskusi difokuskan pada tantangan dan kesulitan AMM, sebagai sebuah misi gabungan antara UE dan ASEAN, yang telah berpengalaman selama kurang lebih 15 bulan terakhir , serta pelajaran apa saja yang dapat dipetik dari pengalaman ini seiring dengan perencanaan untuk misi kedepan. Duta Besar Jerman secara luas tertarik pada fase awal dari misi AMM dan dibawah kondisi seperti apa AMM pada saat tiba di Aceh. Kebanyakan tidak ada misi lain yang dapat ditempatkan lebih cepat dari AMM. Kunci pelajaran yang dipetik adalah fleksibilitas dalam prosedure dan pendekatan ketika membentuk sebuah misi. Hal ini terlihat pada periode Misi Pemantau Awal pada bulan pertama yang didukung oleh negara-negara UE yang berpartisipasi serta negara-negara anggota ASEAN sebelum AMM secara resmi diluncurkan pada 15 September 2005.



Mantan Menteri Pertahanan Finlandia mengunjungi AMM

Mantan Menteri Pertahanan Finlandia dan penulis-pendamping laporan penting “Perempuan, Perang dan Damai”, Elisabeth Rehn, mengunjungi Aceh Monitoring Mission (AMM) pada hari Jumat 24 November 2006. Beliau diberikan informasi oleh staf lokal dan internasional AMM mengenai pencapaian, mandat, dan status misi AMM. Perhatian khusus diberikan pada isu-isu mengenai hak asasi manusia dan gender. Pertemuan tersebut memberikan ruang untuk berdiskusi mengenai pelajaran-pelajaran yang bisa dipetik dari AMM berkenaan dengan implementasi Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 1325 tentang Wanita, Peardamaain dan Keamanan, dengan memandang pada masa depan misi manajemen krisi UE di masa yang akan datang dibawah Kebijakan Keamanan dan Pertahanan Eropa (ESDP). Resolusi 1325 adalah resolusi pertama yang disetujui Dewan Keamanan PBB yang secara khusus ditujukan pada dampak perang dan wanita, dan kontribusi wanita dalam resolusi konflik dan perdamaian yang berkelanjutan.



Duta Besar Hak Asasi Manusia Swedia mengunjungi AMM

Pada tangga l9 November Duta Besar Hak Asasi Manusia Swedia, Jan Nordlander, mengunjungi Aceh Monitoring Mission (AMM). Pada kunjungan tersebut Duta Besar diberikan informasi mengenai hasil temuan mengenai hak asasi manusia selama mandat misi di Aceh, dan mengenai konteks perkembangan hak asasi manusia yang lebih luas di Indonesia. Dalam diskusi terbuka, yang mencakup mandat AMM yang lebih luas dan perkembangan terakhir di Aceh, seperti situasi menjelang pemilihan lokal langsung dan demokratik yang dilaksanakan untuk pertama kalinya di provinsi ini, Duta Besar menunjukan ketertarikan atas kerja AMM. Lebih lanjut, mengenai pelajaran yang telah diterima, baik perwakilan AMM maupun Duta Besar sepakat bahwa sukses pendekatan misi terhadap hak asasi manusia layak ditiru pada misi UE selanjutnya dan juga di Brussels, hal ini mempertinggi profile subyek tersebut.



Kesepakatan tentang jumlah penambahan polisi sementara – COSA 4 November

Dalam pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-43 yang diadakan pada tanggal 4 November, pihak-pihak secara prinsipnya menyepakati penambahan jumlah polisi sementara sebanyak 2433 personil dimana keterangan secara mendetail tentang hal ini akan didiskusikan. Tujuannya adalah untuk lebih lanjut memastikan keamanan wilayah selama pelaksanaan Pilkada. Pertemuan ini juga mengemukakan dukungan penuh atas kesepakatan yang dicapai oleh pihak-pihak dalam pendistribusian dana reintegrasi bagi mantan pejuang GAM. Solusi teknis ini meliputi penyerahan daftar nama 3000 mantan pejuang GAM, dimana proses ini sudah dimulai, serta selanjutnya pembayaran dana reintegrasi. Isu-isu lain yang dibahas dalam pertemuan COSA adalah peraturan pelaksana untuk UU PA dan pemenuhan tugas oleh Pemerintah Indonesia tentang artikel 4.9 Nota Kesepakatan Helsinki.

Baca lengkap hasil pertemuan COSA



AMM menekankan pentingnya dialog

Pada hari Jumat 4 November 2006 Ketua AMM Pieter Feith mengundang sejumlah perwakilan dari komunitas sipil untuk menghadiri sebuah diskusi yang bertemakan peran komunitas sipil dalam proses perdamaian yang berkelanjutan setelah kepergian AMM tanggal 15 Desember 2006. Pertemuan ini adalah salah satu usaha AMM untuk membuat perdamaian di Aceh dapat berjalan dengan sendirinya. Kepemilikan penuh atas proses perdamaian akan diambil alih oleh masyarakat Aceh dan kedua belah pihak penandatangan Nota Kesepakatan Helsinki, adalah sangat penting bahwa mekanisme-mekanisme yang ada dapat memastikan sebuah perdamaian yang abadi.

Baca lengkap press release



Pieter Feith mengunjugi pimpinan GAM di Stockholm

Pieter Feith, Ketua Misi Aceh Monitoring Mission (AMM), didampingi oleh Kepala Staff AMM Justin Davies, melakukan kunjungan kehormatan kepada Tengku Hasan Di Tiro di Stockholm, Swedia, pada hari Rabu, 11 Oktober 2006. Kunjungan ini membahas perkembangan terakhir di Aceh dan bertemu dengan Malik Mahmud dan Zaini Abdullah untuk mendiskusikan beberapa isu hangat dalam hubungannya dengan kelanjutan proses perdamaian. Pertemuan ini merupakan bagian dari mandat AMM yang lebih luas dalam mendukung pengimplementasian Nota Kesepahaman yang ditandatangani di Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005 and memfasilitasi dialog antara Pemerintah Indonesia dan GAM.



AMM mengadakan acara Buka Puasa Bersama

Pada tanggal 12 Oktober 2006, Wakil Ketua AMM, Dato’ Mohd. Rozi bin Baharom, mengadakan acara buka puasa bersama para tokoh dan staff nasional AMM. Dalam pidato sambutannya, Jenderal Rozi mendoakan keberkahan bulan puasa kepada semuanya. Acara buka puasa tersebut berlangsung dalam suasana penuh keakraban yang diadakan di kediaman resmi Ketua Misi AMM di Banda Aceh.



Kunjungan Menteri Pengembangan Belanda ke AMM

Menteri Pengembangan Belanda Ms. Agnes van Ardenne mengunjungi Kantor Pusat AMM di Banda Aceh pada hari Senin, 9 September 2006. Turut serta bersama beliau yaitu Duta Besar Belanda untuk Indonesia Mr. Nikolaos van Dam dan sejumlah kecil delegasi. Para rombongan disambut oleh Wakil Ketua AMM, Mr Dato’ Mohd. Rozi bin Baharom and para anggota senior lainnya. Pertemuan ini mendiskusikan tentang tugas dan status misi dan juga perkembangan terakhir proses perdamaian Aceh. Dalam pertemuan ini, Ms Van Ardenne juga memberitahukan kelanjutan dukungan keuangan dari Pemerintah Belanda untuk perpanjangan terakhir dari misi ini yang efektif berlaku pada tanggal 15 September 2006 dan akan berakhir pada tanggal 15 Desember 2006.



Royal College of Defence Studies mengunjungi AMM

Dua belas staff senior dari Royal College of Defence Studies – Inggris mengunjungi AMM pada hari Minggu, 17 September 2006. Para staf yang berasal dari berbagai negara diseluruh dunia tersebut mengikuti program pendidikan satu tahun di London, Inggris. Kedatangan mereka disambut oleh Ketua AMM Pieter Feith dan staff senior AMM lainnya. Acara satu hari tersebut memfokuskan isu-isu yang terkait dengan proses perdamaian Aceh terutama misi pemantauan termasuk beberapa pengarahan bidang politik dan aspek-aspek operasional dari misi pemantauan. Fokus utama dalam meningkatkan kerjasama mutual antara EU dan ASEAN juga dipaparkan. Kunjungan ke Banda Aceh dan AMM adalah bagian lebih luas dari perjalanan studi ke wilayah Asia Tenggara dan Australia.



Penutupan kasus insiden Paya Bakong diangkat dalam pertemuan COSA

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) dilaksanakan pada hari Sabtu, 16 September 2006 memfokuskan pada kasus insiden Paya Bakong yang terjadi pada 3 Juli 2006. Pihak-pihak sepakat bahwa isu tersebut saat ini akan dilanjutkan sebagai kasus normal polisi dan prosedur judisial yang merupakan tanggungjawab dari Pemerintah Indonesia. Penyelidikan Pemerintah Indonesia dan AMM secara jelas menunjukkan adanya pelanggaran-pelanggaran serius terhadap Nota Kesepahaman termasuk penggunaan kekuatan yang tidak pada tempatnya oleh militer dan keterlibatan TNI dalam urusan penegakan ketertiban hukum dimana hal tersebut merupakan tanggungjawab pihak kepolisian. TNI di Aceh harus mentaati prinsip-prinsip universal dari hak asasi manusia, yang telah tercantum dalam peraturan hukum nasional, dan menghormati kebudayaan tradisional dan adat-istiadat Aceh. Pemerintah Indonesia berjanji untuk mengambil tindakan yang sesuai berdasarkan Konstitusi dan peraturan hukum Indonesia. Isu-isu lain yang dibahas dalam pertemuan ini adalah UU PA, reintegrasi dan jumlah personil polisi selama Pilkada berlangsung.

Baca pernyataan lengkap pertemuan COSA



AMM menerima kunjungan Glyn Ford – Calon Ketua Pemantau Uni Eropa untuk pemantauan Pilkada

Pada hari Selasa 12 September 2006 AMM menerima kunjungan delegasi Komisi Eropa dari Jakarta dan Bapak Glyn Ford – Calon Ketua Pemantau Pilkada Uni Eropa. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan untuk mendiskusikan isu-isu politik dan teknis berkaitan dengan pelaksanaan Pilkada mendatang di Aceh, yang dijadwalkan akan diselenggarakan pada 11 Desember 2006, dimana hal tersebut akan dipantau oleh sebuah misi Pemantau Pemilu Uni Eropa (European Observation Mission). AMM tidak memonitor Pilkada karena hal itu bukan bagian dari mandat AMM. Pemantuan Pilkada akan dilakukan oleh EOM yang merupakan sebuah misi pemantau terpisah dengan kompetensi spesifik yang berhubungan dengan Pilkada. AMM akan melanjutkan memantau pengimplementasian Nota Kesepahaman, memfasilitasi kontak-kontak antara pihak-pihak dan menyelidiki pelanggaran-pelanggaran sebagaimana diperlukan, hingga 15 Desember.



AMM diperpanjang – tetap berkomitmen dengan format yang diperkecil

Pada 7 September 2006, Dewan Uni Eropa secara resmi memutuskan memperpanjang misi AMM pimpinan Uni Eropa di Indonesia dengan periode final hingga 3 bulan sampai 15 Desember 2006. Keputusan diambil dalam koordinasi dengan negara-negara ASEAN yang berpartisipasi. Sebagai sebuah konsekwensi dari kemajuan luar biasa yang dicapai oleh pihak-pihak dan dengan bertujuan menyelesaikan penyerahterimaan proses perdamaian kepada pihak-pihak dan masyarakat Aceh, AMM akan mengurangi kehadiran jumlah pemantaunya di Aceh. Mulai dari 15 September 2006 dan dengan konfigurasi sebanyak 35 pemantau AMM akan terus memantau pengimplementasian komitmen-komitmen yang tercantum dalam Nota Kesepakatan, memfasilitasi kontak-kontak antara pihak-pihak dan menyelidiki pelanggaran-pelanggaran jika diperlukan. Terhitung mulai 11 September 2006 AMM akan kembali mengorganisir struktur internal dan seluruh pemantau AMM yang tersisa akan berbasis di Banda Aceh. Kantor-kantor wilayah AMM akan ditutup. Setelah itu pemantauan bergerak (mobile monitoring) akan siap untuk diterjunkan keseluruh penjuru Aceh sebagaimana diperlukan.

Baca selengkapnya press release AMM 11 September



Pertemuan COSA menyambut pengumuman jadwal Pilkada

Dalam pertemuan COSA yang ke 41 pada tanggal 2 September 2006 topik-topik utama yang didiskusikan adalah UU PA, insiden Payo Bakong pada tanggal 3 Juli 2006 dan kemungkinan penambahan personil Polisi guna mengamankan pelaksanaan Pilkada. Pertemuan yang dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith ini diselenggarakan dalam semangat yang baik serta dihadiri oleh Menteri Informasi Sofyan Djalil, perwakilan GAM Irwandi Yusuf dan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar. Semua pihak mengetahui dan menyambut pengumuman dari Pemerintah Indonesia yang menyatakan bahwa Pilkada akan dilaksanakan pada 11 Desember 2006.

Baca pernyataan lengkap pertemuan COSA



Peringatan Satu Tahun Perjanjian Helsinki

Pada tanggal 15 Agustus 2006, pihak-pihak yang terlibat dalam proses pedamaian Aceh, bersama Aceh Monitoring Mission (AMM) dan dengan dihadiri oleh mantan Presiden Martti Ahtisaari, merayakan peringatan pertama penandatanganan Nota Kesepahaman di Banda Aceh. Pada kesempatan ini Pertemuan Komisi penaturan Keamanan (COSA) juga diadakan dan pihak-pihak yang terlibat menyatakan dengan rasa puas kemajuan yang signifikan yang telah dilakukan dalam mengimplementasikan perjanjian damai. Perayaan lalu dilanjutkan di Ulhee Lee dimana Wakil Presiden Jusuf Kalla, Martti Ahtisaari, Gubernur Aceh Mustafa Abubakar, dan pemimpin GAM Malik Mahmud memberikan pidato mereka. Acara tersebut termasuk juga upacara Peusijeuk, lagu, dan tarian tradisional. Melihat ke masa depan, Ketua AMM Pieter Feith mengatakan beliau optimis bahwa rakyat Aceh akan memasuki tahun 2007 dengan semua persyaratan yang dibutuhkan untuk perdamaian yang menyeluruh, berkelanjutan, dan abadi.

Baca statement COSA selengkapnya



Menteri Pertahanan Swedia mengunjungi AMM

Menteri Pertahanan Swedia Leni Björklund mengunjungi markas besar AMM dan Badan Pelayanan Penyelamatan Swedia (Swedish Rescue Service Agency - SRSA) pada hari Selasa, 8 Agustus 2006. Menteri Bjorklund didampingi oleh Duta Besar Swedia untuk Indonesia Bapak Lennart Linnér serta Ketua Departemen Operasi Kemanusiaan SRSA Bapak Kjell Larsson. Kunjungan tersebut memberikan kesempatan kepada Menteri dan delegasinya untuk menyaksikan kerja dari tim SRSA di Aceh khususnya dalam bidang logistik dan bantuan teknis SRSA terhadap AMM. Menteri Bjorklund juga menerima penjelasan singkat tentang status misi, mandat AMM serta perkembangan terkini dari proses perdamaian dari Wakil Ketua Utama AMM Dato Mohamad Rozi Bin Baharom. Selain dukungan SRSA yang tidak ternilai harganya terhadap AMM, SRSA juga berkontribusi dalam usaha-usaha kemanusian internasional menyusul bencana Tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 lalu.



AMM hadir pada acara penyerahterimaan UUPA yang telah ditandatangani

Pada hari Rabu, 3 Agustus 2006 Menteri Dalam Negeri, Muhammad Ma’aruf; secara simbolis menyerahterimakan Undang-undang Pemerintahan Aceh (UUPA) kepada Pj Gubernur Aceh, Mustafa Abubakar. Acara ini diadakan setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani UU ini pada tanggal 2 Agustus 2006. Acara yang berlangsung di kantor DPRD Banda Aceh ini juga dihadiri oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Sofyan Djalil dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Taufik Effendi serta Aceh Monitoring Mission (AMM). AMM diwakili oleh Wakil Ketua Misi Bidang Amnesty, Reintegrasi dan Hak Asasi Manusia, Renata Tardioli dan Penasehat Hukum Robert Hygrell.



Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-39 mengenai UU-PA dan isu-isu lain

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-39 diadakan pada tanggal 22 Juli 2006, dipimpin oleh Ketua Aceh Monitoring Mission (AMM), Pieter Feith. Delegasi Pemerintah Indonesia dipimpin oleh Menteri Sofyan Djalil dan delegasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dipimpin oleh Irwandi Yusuf. Gubernur Aceh juga turut menghadiri pertemuan ini.
Isu-isu lain juga didiskusikan oleh pihak-pihak yang terlibat, diantaranya mengenai UU-PA, rencana untuk merayakan peringatan satu tahun penandatanganan MoU, dan isu-isu lain yang berhubungan dengan proses perdamaian.

Baca lengkap pernyataan COSA 22 Juli



Pertemuan COSA membahas khusus tentang Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA)

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-38 diadakan hari Rabu, 12 Juli 2006 dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith. Delegasi Pemerintah Indonesia dipimpin oleh Menteri Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil dan delegasi GAM dipimpin oleh Irwandi Yusuf. Gubernur Aceh Bapak Mustafa Abubakar juga menghadiri pertemuan ini. Pertemuan COSA ini membahas khusus tentang Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA) yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada hari Selasa, 11 Juli 2006. Pada sesi pertukaran pandangan awal tentang UU PA, pihak-pihak mengucapkan selamat kepada DPR atas hasil yang komprehensif dan juga menyambut baik rencana kedatangan anggota Panitia Khusus (Pansus) ke Aceh pada tanggal 13 Juli untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut tentang UU PA.

Baca lengkap pernyataan COSA 12 Juli



AMM menyesalkan insiden penembakan di Paya Bakong

Aceh Monitoring Mission (AMM) sangat menyesalkan insiden penembakan yang terjadi di desa Paya Bakong, Lhokseumawe pada hari Senin malam, 3 Juli 2006 yang mengakibatkan satu orang meninggal dan melukai dua lainnya. Pertama-tama AMM ingin menyampaikan duka cita yang mendalam, doa kami menyertai para korban dan keluarganya. Tidak ada anggota AMM yang terluka dalam insiden ini dan semua anggota AMM yang berada pada tempat dimana insiden terjadi berada dalam keadaan aman. AMM melihat kasus ini sebagai sebuah insiden yang serius dan penyelidikan lebih lanjut akan dilakukan.

Baca pernyataan lengkap



Pertemuan COSA 1 Juli

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) antara AMM, Pemerintah Indonesia dan GAM diadakan di Banda Aceh pada 1 Juli 2006. Pertemuan memfokuskan kepada pembahasan proses reintegrasi, Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU PA) serta sejumlah isu-isu yang berkaitan dengan masalah keamanan ini dipimpin oleh Wakil Ketua Utama AMM Bapak Dato’ Mohd. Rozi Bin Baharom. Pertemuan COSA adalah pertemuan yang dilakukan secara berkala dan melibatkan perwakilan dari kedua belah pihak dan dipimpin oleh AMM. Pertemuan COSA adalah kekuatan pendorong dari proses perdamaian dimana pertemuan ini diadakan di tingkat provinsi dan kabupaten. Melalui pertemuan ini AMM telah mampu mendorong dan menilai perkembangan-perkembangan terhadap berbagai langkah dalam pengimplementasian Nota Kesepakatan serta membantu memfasilitasi berbagai persoalan yang merintang.

Baca lengkap Pernyataan COSA 1 Juli



Ketua AMM diundang untuk berbicara di Parlemen Eropa

Pada tanggal 21 Juni Ketua AMM Pieter Feith diundang oleh Komisi untuk Urusan Luar Negeri di Parlemen Eropa untuk berbicara mengenai misi AMM yang dipimpin oleh Uni Eropa. Presentasi yang diberikan oleh Pieter Feith terfokus pada misi itu sendiri, khususnya dalam hal memelopori kerjasama inovatif dengan para mitra dari lima negara ASEAN serta memastikan kelangsungan proses perdamaian. Diantara sejumlah isu-isu yang diangkat Ketua AMM menekankan pada pentingnya penempatan awal misi dan penghancuran persenjataan GAM secara cepat dan nyata. Bapak Feith lebih jauh mengatakan bahwa ini adalah yang pertama bagi Uni Eropa untuk menempatkan para pemantau hak asasi manusia sebagai bagian dari operasi krisis manajemen. Dalam hubungannya dengan presentasi kepada Parlemen Eropa, Bapak Feith juga memberikan penjelasan singkat kepada persatuan pers internasional di Brussels, Belgia (foto terlampir).



Pertemuan COSA 17 Juni 2006

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-36 antara pihak-pihak yang terlibat dalam proses perdamaian dilaksanakan dalam suasana yang kondusif di Banda Aceh pada 17 Juni 2006. Pertemuan dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith. Pihak-pihak mempertimbangkan kondisi Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU PA) dan AMM mendesak pihak-pihak untuk menangani harapan-harapan terhadap hasil dari UU yang saat ini tengah dirampungkan oleh Parlemen Nasional (DPR). Pihak-pihak juga diinformasikan lebih lanjut tentang restrukturisasi BRA. Pertemuan mendiskusikan juga tentang struktur-struktur pasca kepergian AMM dan rencana kerja Pemerintah Indonesia mengenai organisasi-organisasi ilegal.

Baca Pernyataan Media selengkapnya



Javier Solana menyambut baik perpanjangan resmi AMM

Javier Solana, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Pertahanan dan Keamanan Luar Negeri Biasa, hari ini menyambut baik keputusan Dewan untuk memperpanjang mandat AMM selama tiga bulan hingga 15 September 2006. Keputusan dibuat pada tanggal 7 Juni 2006 oleh para Menteri Luar Negeri Uni Eropa dalam sebuah pertemuan Dewan di Brussels, Belgia. Keputusan perpanjangan misi AMM ini adalah berdasarkan atas undangan Pemerintah Indonesia yang didukung sepenuhnya oleh Kepemimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan akan memberikan kontribusi untuk memperkuat keyakinan dan kepercayaan lebih lanjut di antara pihak-pihak. Semua pihak juga mengetahui bahwa perpanjangan ini harus merupakan perpanjangan yang terakhir.

Baca pernyataan media Javier Solana



Tim Medis AMM kembali dari Yogyakarta

Menyusul tragedi bencana gempa bumi yang menimpa Yogyakarta dan sebagian daerah di Jawa Tengah pada hari Sabtu 27 Mei 2006 lalu, AMM secara cepat memberikan respon dan menawarkan bantuan kepada Pemerintah Indonesia. Sesuai dengan keputusan Ketua AMM Pieter Feith, 2 tim medis AMM dari SOS Internasional yang terdiri dari 2 dokter medis, 4 paramedis dan satu supir/staff administrasi ditempatkan di wilayah bencana dan memberikan bantuan tanggap darurat secara keseluruhan. Tim pertama meninggalkan Banda Aceh pada tanggal 29 Mei dan tim kedua berangkat pada tanggal 30 Mei. Tim-tim ini memberikan bantuan medis untuk para korban gempa bumi dan telah merawat sekitar 250 pasien dibawah pengawasan pejabat lokal yang berwenang. Sebelum meninggalkan wilayah bencana, kedua tim tersebut menyerahkan tugasnya ke korps medis Angkatan Laut RI dan AUSAID. Semua material sekali pakai disumbangkan untuk melanjutkan usaha-usaha bantuan. AMM sekali lagi menyatakan turut berduka cita yang amat sangat mendalam kepada masyarakat Jawa Tengah. Doa kami menyertai keluarga dan teman-teman dari mereka yang menderita akibat bencana gempa bumi ini.



Wakil Menteri Pertahanan Brunei Darussalam mengunjungi Markas Besar AMM

Ketua AMM Pieter Feith bertemu dengan Wakil Menteri Pertahananan Brunei Darussalam Pehin Yasmin pada hari Senin, 5 Juni 2006. Bapak Yasmin mengadakan kunjungan resmi ke Markas Besar AMM di Banda Aceh dimana beliau juga mendapatkan penjelasan dan informasi terkini tentang proses perdamaian. Ketua AMM Pieter Feith menyampaikan ucapan terima kasih kepada pemerintahan Kerajaan Brunei yang juga mengirimkan 6 anggota pemantaunya dalam misi gabungan Uni Eropa dan ASEAN ini. Pertemuan juga mendiskusikan tentang beberapa hal yang telah dipelajari yang berhubungan dengan kerjasama Uni Eropa dan ASEAN. Uni Eropa melihat misi AMM sebagai sebuah model masa depan untuk bekerjasama dengan ASEAN dalam konteks Komunitas Keamanan ASEAN yang dikembangkan.



Reintegrasi dalam fokus – Pertemuan COSA 3 Juni

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-35 antara AMM, Pemerintah Indonesia dan GAM diadakan hari Sabtu, 3 Juni 2006. Fokus utama dari pertemuan tersebut adalah masalah reintegrasi. Pihak-pihak menerima keterangan dan informasi terkini tentang langkah-langkah pembagian dana reintegrasi tahun 2006 serta informasi mengenai organisasi internal Badan Reintegrasi Aceh (BRA). Semua pihak sepakat bahwa reintegrasi adalah tanggungjawab dari Pemerintah Indonesia. Gubernur Aceh Mustafa Abubakar akan memformulasikan sebuah solusi terhadap restrukturisasi BRA dan melaporkan isu ini kembali kepada AMM pada 9 Juni 2006. Topik lain yang dibicarakan adalah struktur-struktur setelah kepergian AMM dan masa depan dari pertemuan-pertemuan COSA di tingkat Kabupaten serta pelatihan Hak Asasi Manusia untuk personil Polisi.

Baca Pernyataan Pertemuan COSA 3 Juni



AMM menyampaikan rasa belasungkawa dan menawarkan bantuan kepada masyarakat Jawa Tengah

Aceh Monitoring Mission (AMM) turut menyampaikan duka cita yang mendalam kepada masyarakat Jawa Tengah atas bencana gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta dan sekitarnya pada hari Sabtu 27 Mei 2006. Doa kami menyertai para keluarga dan rekan-rekan dari mereka yang menderita akibat bencana gempa bumi tersebut. AMM siap membantu masyarakat yang terkena dampak dari bencana yang menyedihkan ini sebisa mungkin. Sesuai keputusan Ketua AMM, dua tim medis SOS International untuk AMM (2 dokter medik, 4 paramedik dan 1 supir) telah dikirim ke Yogyakarta dan siap membantu Pemerintah Indonesia. Tim tersebut akan menyediakan bantuan pengobatan bagi para korban gempa.

Baca press release 29 Mei



Pertemuan COSA, 15 Mei

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) ke-34 diadakan hari Senin, 15 Mei 2006. Pihak-pihak mendiskusikan perkembangan-perkembangan terkini di bidang reintegrasi dan menyimak pernyataan dari Ketua Badan Reintegrasi Aceh Damai (BRA) yang baru Bapak Husni Syabi, mengenai pandangan serta ide-idenya mengenai usaha-usaha yang dilanjutkan oleh BRA. Pemerintah Indonesia memberikan laporan terkini tentang proses diskusi Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU PA) yang tengah dibahas di DPR. AMM juga memberikan beberapa pertimbangan tentang situasi di Aceh pasca kepergian AMM dengan menyatakan bahwa kepemilikan proses perdamaian ini harus secara bertahap diambil alih oleh pihak-pihak karena mandat AMM secara perlahan namun pasti akan berakhir. Pertemuan COSA berikutnya diadakan pada hari Jum’at, 2 Juni atau Sabtu 3 Juni pukul 10.00 WIB.

Baca Pernyataan lengkap hasil pertemuan COSA



Perpanjangan misi AMM

Kemarin, tanggal 11 Mei di Brussels, sebuah pertimbangan positif diberikan oleh Uni Eropa terhadap permintaan Pemerintah Indonesia untuk AMM melanjutkan mandatnya hingga tanggal pelaksanaan Pilkada di Aceh, namun tidak melebihi dari tanggal 15 September 2006. Pihak-pihak yang terlibat dalam Nota Kesepahaman Helsinki mengetahui bahwa perpanjangan ini harus menjadi perpanjangan yang terakhir. Saat AMM meninggalkan Aceh, AMM akan harus menyelesaikan semua tugas-tugas yang diberikan kepadanya, seperti yang telah disepakati oleh pihak-pihak di Helsinki.

Baca Pernyataan Media oleh Ketua AMM



Hari Eropa, 9 Mei

Tanggal 9 Mei adalah Hari Eropa. Eropa menandakan hari jadinya dengan sebuah visi baru untuk Eropa. Tujuannya adalah untuk meyakinkan dunia bahwa menciptakan sebuah peperangan di Eropa adalah suatu hal yang tidak dapat dipikirkan. Lebih dari 50 tahun kemudian kami merayakan visi ini yang telah membawa Eropa Barat ke periode perdamaian yang sangat luar biasa. Di Banda Aceh, Misi Pemantau Aceh (Aceh Monitoring Mission) dan Komisi Eropa (European Commission – EC) bersama-sama merayakan Hari Eropa dengan mengadakan sebuah resepsi di Rumah Eropa. Para tamu yang diundang diantaranya adalah perwakilan dari Uni Eropa, Pemerintah Daerah, Donor, LSM dan perwakilan dari komunitas sipil Aceh. Dalam kesempatan ini, AMM dan Komisi Eropa juga mempublikasikan sebuah artikel gabungan di surat kabar lokal Serambi Indonesia.

Uni Eropa di Aceh – Sebuah komitmen untuk Rekonstruksi dan Perdamaian



Pengalaman Misi Pemantau Aceh (Aceh Monitoring Mission)

Pada tanggal 3 Mei Ketua Misi Pemantau Aceh Bapak Pieter Feith mengikuti seminar satu hari di Jakarta yang diselenggarakan secara bersama antara Pusat Studi Eropa-Universitas Indonesia dan Komisi Eropa. Seminar yang bertemakan: Setelah Tsunami, Dari Pemulihan ke Perdamaian, bertujuan memberikan sebuah peninjauan luas terhadap tantangan-tantangan yang dihadapi Indonesia, negara yang terkena hantaman Tsunami terparah dan peran Uni Eropa dalam membantu Indonesia. Seminar ini juga memberikan ruang spesifik tentang perdamaian dan keamanan di Aceh. Pada kesempatan ini Bapak Pieter Feith memberikan penjelasannya tentang pengalaman Aceh Monitoring Mission. Selain Bapak Pieter Feith panel juga menghadirkan Panglima Iskandar Muda Jendral Supiadin, Perwakilan Senior GAM untuk AMM Bapak Irwandi Yusuf, Ronan Mac-Aongusa dari Komisi Eropa dan Direktur Aceh Recovery Forum Bapak Humam Hamid.

Pengalaman AMM – oleh Bapak Pieter Feith



Pilkada semakin dekat – Pertemuan COSA, 29 April

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) diadakan pada hari Sabtu, 29 April 2006 dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith. Para peserta pertemuan mendiskusikan sejumlah isu yang berhubungan dengan pengimplementasian Nota Kesepakatan Helsinki, antara lain tentang Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh, kemungkinan perpanjangan AMM dan pelaksanaan Pilkada. AMM mengklarifikasikan bahwa AMM tidak akan memantau Pilkada karena hal tersebut bukan mandat AMM. Pemantauan akan dilakukan secara terpisah oleh misi pemantau Pemilu Uni Eropa, menyusul undangan dari Pemerintah Indonesia. Pihak-pihak juga mengetahui tentang kedatangan seorang penasehat hukum senior AMM yang bertugas membantu pihak-pihak dalam menyelesaikan kasus-kasus amnesti yang tertunda.

COSA Pernyataan Pers 29 April 2006



Pertemuan Tingkat Tinggi COSA dipimpin oleh Javier Solana

Pertemuan Tingkat Tinggi Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) yang pertama diselenggarakan di Pendopo, Banda Aceh pada hari Sabtu, 22 April. Pertemuan didampingi serta dipimpin oleh Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Keamanan dan Luar Negeri Biasa, Bapak Javier Solana dan Ketua Aceh Monitoring Mission, Bapak Pieter Feith. Pertemuan yang membahas isu-isu seperti reintegrasi, perubahan perundang-undangan, amnesty dan pengaturan keamanan berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam. Setelah pertemuan, Bapak Solana, Bapak Feith bersama dengan Gubernur Aceh Mustafa Abubakar, Perwakilan Senior Pemerintah Indonesia diwakili oleh Menteri Informasi dan Komunikasi Sofyan Djalil dan Perwakilan Senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM) diwakili oleh Bapak Malik Mahmud memberikan pemaparan singkat atas hasil-hasil yang dicapai dalam pertemuan COSA.

Pengumuman Media



Perwakilan Tinggi UE Javier Solana mengunjungi AMM

Perwakilan Tinggi Uni Eropa Bapak Javier Solana akan mengunjungi Aceh dan Aceh Monitoring Mission (AMM) pada hari Sabtu, 22 April 2006 . Bapak Solana akan mendampingi memimpin rapat tingkat tinggi Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) bersama dengan Ketua AMM Pieter Feith. Pertemuan COSA akan dihadiri oleh Menteri Informasi Sofyan Djalil mewakili Pemerintah Indonesia dan Bapak Malik Mahmud dari perwakilan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Bapak Solana juga akan bertemu dengan Komisi Eropa untuk mendiskusikan usaha-usaha lebih luas dari Uni Eropa untuk mendukung proses perdamaiann dan upaya-upaya rekonstruksi Tsunami yang sedang berlangsung, serta mengunjungi Markas Besar AMM.
Press Briefing akan diadakan secara singkat setelah pertemuan COSA di tangga depan pintu masuk utama Pendopo pada pukul 11.00 WIB. Konferensi Pers juga akan diselenggarakan di Markas Besar AMM pukul 17.00 WIB pada hari yang sama.

Pengumuman Media



Wakil Ketua Misi AMM yang baru

Mayor Jendral Dato Mohd. Rozi Baharom dari Malaysia telah ditunjuk sebagai Wakil Ketua Misi AMM yang baru. Pada tanggal 14 Maret 2006 beliau menggantikan Jenderal Nipat Thonglek dari Thailand yang akan kembali ke negaranya untuk penugasan yang baru. Md Rozi berpengalaman pada Misi PBB di Somalia dan juga pernah menjabat sebagai seorang diplomat di Thailand. Sebelum bergabung di AMM, beliau merupakan Kepala Staff Angkatan Bersenjata pada Markas Besar Angkatan Bersenjata, Kementrian Pertahanan, Kuala Lumpur, Malaysia.



Perpanjangan AMM dimulai

Pada 27 Februari 2006 Dewan Uni Eropa memperpanjang durasi misi AMM selama tiga bulan hingga 15 Juni 2006. Perpanjangan ini berdasarkan atas undangan Pemerintah Indonesia disertai dukungan penuh dari kepemimpinan GAM. Selain itu juga disepakati bahwa AMM akan mengurangi jumlah personelnya. Pada hari Senin, 13 Maret 2006 AMM mengadakan upacara perpisahan internal untuk sekitar 100 anggotanya yang meninggalkan Aceh. Perpanjangan misi AMM secara resmi akan dimulai pada 15 Maret 2006. Tugas-tugas AMM tidak mengalami perubahan kecuali untuk tugas pemantauan perlucutan senjata dan penarikan pasukan non organik TNI/Polri yang sudah diselesaikan.



Kunjungan Komisaris Polisi Brunei Darussalam

M Pada 13 Maret 2006 Komisaris Polisi dari Kepolisian Kerajaan Brunei Darussalam, Pehin Zainudin mengunjungi anggota AMM dari kontingen Brunei. Dalam acara ini Bapak Zainudin mengadakan kunjungan kehormatan terhadap Ketua AMM Pieter Feith. Dalam pertemuan tersebut Ketua AMM menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Komisaris Polisi Brunei atas kontribusi dari kontingen Brunei. Keduanya juga mendiskusikan perkembangan terkini dan tantangan kedepan. Pertemuan diadakan di markas besar AMM di Banda Aceh.



Komisi Pengaturan Keamanan (COSA)

Pertemuan COSA diadakan pada 12 Maret 2006, dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith. Perwakilan Senior Pemerintah Indonesia dan GAM serta Gubernur Aceh menghadiri pertemuan ini. Pihak-pihak mendiskusikan hal-hal mengenai proses reintegrasi, beberapa insiden yang terkait dengan masalah keamanan dan kasus amnesti yang tertunda. Pertemuan COSA berikutnya akan diadakan pada hari Senin 27 Maret 2006.

Pernyataan Pers COSA 12 Maret



Para pemantau AMM meninggalkan Aceh

Minggu depan, lebih dari seratus pemantau asal Eropa dan ASEAN akan meninggalkan AMM setelah sukses menyelesaikan tugasnya. Sekitar 85 pemantau masih akan tinggal di Aceh hingga 15 Juni 2006.
Anggota-anggota AMM yang akan meninggalkan tugasnya minggu depan diantaranya adalah Principal Deputy Head of Mission Nipat Thonglek dari Thailand dan Deputy Head of Mission, Operation Jaakko Oksanen dari Finland.
Gambar ini adalah gambar Nipat THONGLEK dan Jaako OKSANEN bersama dengan mantan pejabat Gubernur Aceh Azwar Abubakar.

Silahkan baca pernyataan pers



AMM SECARA RESMI DIPERPANJANG

Menyusul undangan dari Pemerintah Indonesia yang didukung oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Dewan Uni Eropa memutuskan pada 27 Februari 2006 untuk memperpanjang AMM untuk periode 3 bulan hingga 15 Juni 2006.

Keputusan Dewan untuk Indonesia/Aceh
Perwakilan Tinggi Uni Eropa Javier Solana menyambut baik perpanjangan AMM



Ketua AMM bertemu dengan delegasi Amerika Serikat

Pada hari Sabtu 25 Februari 2006 AMM menerima kunjungan tingkat tinggi dari delegasi Amerika Serikat termasuk Senator Amerika Feingold, Kanselir Politik Kedutaan Besar Amerika, ketua Desjardins dan Komandan Pasifik Amerika Laksamana Fallon.

Press release 25 February



COSA 25 Februari 2006

Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) yang ke-30 diadakan pada hari ini, Sabtu 25 Febuari 2006 dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith . Delegasi Pemerintah Indonesia diwakilkan oleh Jendral Bambang Darmono dan delegasi GAM diwakilkan oleh Irwandi Yusuf. Gubernur Aceh Bapak Mustafa Abubakar juga menghadiri pertemuan ini.

Pernyataan Pers COSA 25 Februari



Proses Verifikasi telah selesai

Sebuah proses yang dilaksanakan oleh Aceh Monitoring Mission (AMM) untuk memeriksa lokasi dan kekuatan satuan organik TNI dan Polri di Aceh menyatakan bahwa Pemerintah Indonesia telah memenuhi Nota Kesepahaman. Tingkat keberadaan TNI dan Polisi dalam kekuatan maksimum berdasarkan pasal 4.7 dalam Nota Kesepahaman bulan Agustus 2005 adalah 14.700 personil TNI dan 9100 polisi.
“Hasil dari proses verifikasi ini sangat menggembirakan […] Hal ini akan membantu untuk meningkatkan keyakinan dan kepercayaan antara pihak-pihak dimasa depan,” ungkap Pieter Feith, Ketua Misi AMM.

Pernyataan Pers 22 Februari



Pertemuan Komisi Pengaturan Keamanan (COSA) 11 Februari 2006

Pertemuan yang diadakan setiap dua minggu ini dipimpin oleh Ketua AMM Pieter Feith dan dihadiri oleh delegasi Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Jendral Bambang Darmono dan delegasi GAM dipimpin oleh Irwandi Yusuf. Pihak-pihak mendiskusikan isu-isu yang termasuk didalamnya adalah isu keamanan, reintegrasi, kasus amnesti yang tertunda dan Rancangan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (RUU PA).

Pernyataan Pers COSA 11 Februari



Kalla mengunjungi Uni Eropa

“Hubungan bilateral yang sangat baik antara Indonesia dan Uni Eropa telah diperkuat dengan kesuksesan keterlibatan Uni Eropa di Aceh melalui AMM, dan hal ini memberikan sebuah momentum yang positif untuk membangun dialog dan kerjasama yang bahkan lebih erat”, demikian diungkapkan oleh Javier Solana, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Kebijakan Keamanan Luar Negeri (CFSP) ketika bertemu dengan Wakil Presiden Indonesia Muhammad Yusuf Kalla di Brussels pada 19 Januari 2006.

Baca press release



Sosialisasi di Lhokseumawe

- Anda telah mampu membangun kepercayaan ke tingkat yang menguntungkan dimana kepercayaan ini menjanjikan hal baik bagi masa depan. Kemajuan ini membuahkan pengenalan terhadap rekonsiliasi yang juga diterima dengan baik di luar provinsi Aceh, demikian dikatakan oleh Wakil Ketua AMM untuk bidang Operasional Jaakko Oksanen dalam acara Sosialisasi Nota Kesepakatan di Lhokseumawe pada tanggal 17 Januari 2006. Oksanen lebih lanjut mengatakan:
AMM memiliki suatu hak istimewa dalam mengemban kepercayaan dan menikmati hubungan persahabatan dari hari pertama AMM memulai misi ini.
Anda telah menerima kami sebagai teman. Keramah-tamahan anda telah menjadi suatu dukungan yang tak ternilai harganya dalam tugas gabungan ini.

Pidato Wakil Ketua AMM bidang Operasional Jaakko Oksanen.



Upacara akhir kepulangan Polisi

Upacara final menandakan akhir dari penarikan pasukan Polisi non organik dilaksanakan di pelabuhan Lhokseumawe pada 31 Desember 2005. Upacara dihadiri oleh Kapolda Aceh Inspektur Jendral Pol. Bahrumsah Kasman dan Wakil Ketua Utama AMM Letnan Jenderal Nipat Thonglek. 2150 personel Polisi non organik yang direlokasi akan meninggalkan Aceh pada 4 Januari 2006 dan dengan demikian merampungkan tahap penarikan secara keseluruhan. Penundaan yang telah dilaporkan kepada AMM disebabkan masalah teknis dengan transport kapal laut.



Pasukan terakhir TNI non organik meninggalkan Aceh

Pada tanggal 29 Desember upacara akhir dari keberangkatan pasukan non organik TNI diselenggarakan di pelabuhan Lhokseumawe sebelum pasukan berbaris menuju kapalnya. Upacara tersebut dihadiri oleh Panglima Militer Aceh Jenderal Supiadin, Perwakilan Senior GAM Irwandi Yusuf dan Ketua AMM Pieter Feith. Dengan merelokasi jumlah akhir dari pasukan non organik TNI yaitu 3.300 dari provinsi Aceh sebelum akhir tahun, TNI telah secara total mematuhi Nota Kesepakatan. Acara ini menandakan sebuah tonggak bersejarah dalam pengimplementasian kesepakatan Helsinki dan membawa proses perdamaian ke langkah penting selanjutnya.

 



Konferensi Hak Asasi Manusia dan Reintegrasi

Pada 28-29 Desember, 15 pemantau dari delapan Kantor Wilayah AMM di Aceh berkumpul menghadiri konferensi Hak Asasi Manusia dan Reintegrasi di Markas Besar AMM. Seiring dengan hampir selesainya proses perlucutan senjata dan perelokasian pasukan non organik TNI dan Polri, fokus dari aktivitas AMM akan mengarah kepada reintegrasi, sesuai dengan Nota Kesepakatan.

Dalam konferensi tersebut, Direktur Departemen Sosial Aceh mempresentasikan rencana-rencana Pemerintah untuk reintegrasi, The International Office for Migration sebagai rekannya dalam mengimplementasikan rencana-rencananya mempresentasikan bagaimana mereka bekerja bersama-sama di tingkat kabupaten. Direktur NGO HAM memberikan presentasi tentang bagaimana mereka bekerja bersama dengan KOMNAS HAM dan situasi HAM secara umum sebelum dan sesudah penandatanganan Nota Kesepakatan.

Direktur Pemantau Peradilan Aceh juga memberikan presentasi tentang Undang-Undang Pemerintahan Aceh yang baru. Seminar ditutup oleh Ketua AMM.



Perlucutan Senjata GAM Selesai

Upacara menandakan berakhirnya tugas perlucutan senjata yang diberikan kepada pihak-pihak berdasarkan Nota Kesepakatan Helsinki dilaksanakan pada hari ini (Rabu 21 Desember) di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh.  Lokasi secara simbolis dipilih di lokasi yang sama pada saat pengumpulan senjata pertama kalinya diadakan pada tanggal 15 September.  Setelah itu, misi telah berhasil mengumpulkan dan memusnahkan 840 senjata. Upacara ini dihadiri oleh Kepala Misi AMM, Mr Pieter Feith, Perwakilan Khusus Pemerintah Indonesia, Mayor Jenderal Bambang Dharmono, Perwakilan Senior Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Bapak Irwandi Yusuf beserta undangan kehormatan lainnya.
Download:

Speech by AMM Head of Mission, Mr Pieter Feith
Speech by GoI representative, Mr Bambang Dharmono
Speech by GAM representative, Mr Irwandi Yusuf



Perlucutan Senjata GAM Selesai

Ketua Misi AMM, Pieter Feith, menyambut dengan gembira selesainya tahap ke-empat yang juga merupakan tahap terakhir perlucutan senjata.  GAM telah memenuhi kewajibannya sebagaimana yang tertera dalam Nota Kesepakatan Helsinki. Total 840 senjata yang memenuhi syarat telah diterima oleh AMM.  Pemerintah Indonesia saat ini mempersiapkan penarikan pasukan non-organik dan polisi.


Perlucutan Senjata Tahap Ke-empat

Tahap ke-empat perlucutan senjata GAM di Aceh, Indonesia, dijadwalkan dilaksanakan antara tanggal 14 hingga 17 Desember. Periode ini diperpanjang hingga tanggal 19 Desember. Perlucutan senjata berikutnya diperkirakan akan dilaksanakan
di Banda Aceh tanggal 19 Desember.



Senyum dan Jabat Tangan

Senyum dan jabat tangan antara tentara Indonesia dan perwakilan GAM terlihat di lokasi perlucutan senjata di Aceh pada saat proses perlucutan senjata tahap ke-empat dan juga yang merupakan yang terakhir berlangsung.  Foto ini diambil di Kutacane, dimana GAM menyerahkan 69 senjata.  Dari jumlah ini 13 senjata di-diskualifikasikan dan 56 senjata diterima oleh AMM.  Pemerintah Indonesia mempermasalahkan satu senjata yang dinyatakan diterima oleh AMM.  Kewenangan untuk memutuskan dalam hal ini adalah pada AMM (14 Desember).
Di Blangkejeren (15 Desember) GAM menyerahkan 51 senjata dimana 4 di-diskualifikasikan, 47 diterima oleh AMM dan 3 dipermasalahkan oleh Pemerintah Indonesia.  Selanjutnya 5 senjata dihancurkan di Banda Aceh.  Dari jumlah tersebut, 4 diterima, 1 di-diskualifikasikan dan tidak ada yang dipermasalahkan. Jumlah total senjata yang diterima oleh AMM pada tanggal 15 Desember adalah 51.



Aceh : So Far So Good

Pada 13 Desember 2005 International Crisis Group (ICG) mempublikasikan informasi terbaru tentang pencapaian-pencapaian di Aceh; satu tahun setelah tsunami meluluhlantakkan daerah-daerah di Samudera Hindia. Laporan tersebut menyebutkan bahwa proses perdamaian di Aceh telah melebihi harapan dan perkiraan semula.  Press release dari organisasi ini menyebutkan bahwa Aceh Monitoring Mission (AMM), yang diketuai oleh perwakilan yang ditunjuk oleh Uni Eropa, Pieter Feith, dengan cepat dan profesional membantu menyelesaikan beberapa persoalan yang menyebabkan konfrontasi. Untuk laporan selengkapnya, silahkan mengakses.

Full report